25 Mei, 2008

MENGAPRESIASI KEBISINGAN "GRUNGE"

Ketidakteraturan bunyi dan kebisingan suara distorsi menjadi penanda warna musik grunge yang dipopulerkan oleh Nirvana. Kurt Cobain (gitar/vokal), Chris Novoselic (bas), dan Dave Grohl (drum) menjadi pengusung musik grunge pertama yang mampu menyejajarkannya dengan jenis musik yang lain. Kesuksesan atau lebih tepatnya "kegilaan" mereka sangat melegenda dan menginspirasi generasi setelahnya. Dua belas tahun setelah meninggalnya Kurt Cobain, Nirvana masih menjadi acuan bermusik bagi generasi muda saat ini. Nirvana yang dinilai merevitalisasi musik punk dan rock n roll ini membuka wacana baru melalui musik mereka yang keluar dari harmoni musik. Musik mereka setia dengan bunyi

distorsi gitar dan bas sepanjang lagu, beat yang nyaman di telinga berubah cepat dan bising, kemudian melambat, cepat lagi, dan mendadak selesai. Ketidakteraturan ritme dan harmoni itu akrab di telinga penggemar musik grunge, melalui lagu Smells Like Teen Spirit dalam album Nevermind (1991). Album ini mendongkrak popularitas Nirvana dan musik grunge-nya. Di Yogyakarta, lagu ini menjadi semacam lagu wajib dalam pentas band-band amatir dan bertahan hingga tahun 1995. Lagu-lagu Nirvana kemudian mulai jarang dipentaskan, tetapi spirit bermusik mereka tetap menyala di hati anak-anak muda. Album pertama Nirvana, Bleach (1989), memang tidak meledak. Album ini menjadi semacam perkenalan musik alternatif di tengah arus musik rock metal. Musik alternatif kemudian memperoleh tempat yang layak setelah dirilis album Nevermind. Musik alternatif rock yang dikenalkan oleh Nirvana merupakan revitalisasi dari musik punk dan rock n roll, yang dikenal juga dengan musik post-punk. Musik punk yang dinilai berakhir masanya pada awal tahun 1980-an, ternyata masih menyimpan kekuatan dan muncul sebagai jenis musik baru yang lebih liar. Musik post-punk lebih keras dan lengkap bunyinya, yang didukung oleh perkembangan teknologi digital. Suara-suara aneh, melengking, dan berisik menusuk telinga menghasilkan dengung yang mengisi kepala. Warna musik itulah yang muncul dalam pentas Kolaborasi Musisi di Java Cafe, Rabu (20/9). Gelaran musik dua bulanan ini mengangkat tema "Nirvana". Lima musisi yang berkolaborasi adalah Brian-Esnanas (bass), Fendy-Bre (gitar), Dori-Endank Soekamti (vokal, gitar), dan Ary-Stereovila (drum), membawakan lagu-lagu Nirvana dalam format elektrik dan akustik. Dalam format elektrik, kebisingan mengisi ruangan kafe. Tata suara yang di-set pada volume tinggi menambah kekuatan vibrasi musik yang merangsang detak jantung bertambah cepat. Tubuh pun tak kuasa menahan vibrasi. Di depan panggung, anak-anak muda yang haus musik alternatif menari pogo, saling membenturkan tubuh seperti orang kesetanan. Ketidakteraturan dalam musik diekspresikan dalam gerak tubuh yang saling bertubrukan. Bagi generasi saat ini, musik yang disharmoni itu justru mampu menyalakan semangat perlawanan. Nuansa yang lahir dari balik kehidupan Cobain yang suram. Suara yang berdenging di telinga dan suara yang saling bertabrakan mengekspresikan protes pada kekacauan kehidupan. Apa yang didengar adalah apa yang dirasakan dan itulah musik. "Event seperti ini merupakan ajang apresiasi musik bagi anak- anak muda. Nirvana merupakan sebuah legenda yang menginspirasi anak- anak muda untuk terus bermusik. Karena itu, dibutuhkan ruang-ruang apresiasi bagi mereka," kata Anang Batas, pemilik Java Cafe. Ruang apresiasi musik yang independen seperti inilah yang menghidupkan warna-warni dunia musik. Komunitas musik dari berbagai aliran berkumpul dan berinteraksi tanpa batas pemisah antarindividu.

Tidak ada komentar: